Mudik…..Silaturahmi…..

September 18, 2008

Terakhir kali saya mudik khusus untuk lebaran sejak menikah pada lebaran tahun 1997. Sekarang terasa sudah lama sekali tidak berlebaran di kampung halaman. Waktu itu kami belum punya anak, kami bisa pergi kapan pun kami mau tanpa persiapan dan rencana berarti. Tahun itu jika mudik dengan naik pesawat terasa sangat mahal sekali. Hanya ada Garuda dan Mandala yang terbang ke Padang dengan harga tiket Rp 700.000 – Rp 900.000 untuk satu kali perjalanan ke Padang di hari biasa. Kalau dihitung dengan inflasi 10%, harga tiket ini setara dengan Rp. 1,5 juta sampai Rp. 1,8 juta per orang untuk satu kali perjalanan. Luar biasakan? Alternative lain naik kapal laut dengan jadwal sekali dua minggu, naik bis dengan jadwal yang lebih fleksibel atau membawa mobil sendiri. Membawa mobil sendiri termasuk pilihan menarik saat itu, karena jauh lebih murah terutama jika bepergian lebih dari dua orang, dan suasana perjalanan cukup aman saat. Saat itu saya mudik dengan mobil sendiri berdua dengan suami. Sedikit bermacet ria menjelang naik ferry di pelabuhan Merak. Ada pengalaman tidak terlupakan saat itu, mobil kami kejeblos masuk got di belokan jalan lintas timur daerah Sumatra Selatan. Melihat kejadian itu mobil- mobil pribadi dibelakang kami pada berhenti untuk membantu menarik mobil. Tapi sayang sekali kondisi mobil tidak memungkinkan untuk ditarik karena kedua roda sisi kiri nyangkut di got yang berpondasi beton. Agak panic juga saat itu bagaimana cara keluarnya. Tidak lama kemudian lewat sebuah bis penuh penumpang dari arah berlawanan dan segera menepi. Penumpang laki-laki serentak turun dan segera membantu “mengangkat” mobil kami rame-rame. Alhamdulillah berhasil. Begitu besarnya solidaritas sesama pemudik dalam perjalanan di suasana lebaran tersebut, hanya dengan ucapan terimakasih merekapun pergi. Mereka tidak mau terima uang atas bantuan tersebut. Syukur mobil tidak terjadi apa-apa dan perjalanan bisa dilanjutkan. Setelah masuk Sumatra Barat kami sempat melewati daerah longsor, hujan dan di waktu malam pula.

Itulah saat-saat terakhir saya merasakan eforia mudik lebaran. memang sebuah tradisi tersendiri . Orang-orang bilang, “ kalian edan jalan jauh begitu berani amat jalan hanya berdua saja. Ya……begitulah adanya. Saya jadi bisa berempati terhadap mereka yang mudik dengan bis atau kereta yang tidak kebagian tempat duduk, atau mudik naik motor dengan jarak yang sangat jauh membonceng 2 anak dan ibunya plus barang bawaan yang tidak sedikit. Luar biasa perjuangannya. Bayangan betapa gembiranya bertemu sanak saudara, bersilaturahmi, sambung rasa seolah akan re-charge energi lagi saat balik ke Jakarta.

Namun setelah punya anak suasana jadi lain, paradigma saya dan suami tentang mudik jadi berubah. Kami hampir tidak pernah mudik lagi di saat lebaran. Lebaran tahun lalu karena anak-anak sudah besar kepikir juga pingin mudik lagi. Tapi kepikirnya sudah pas masuk Ramadhan alhasil tidak dapat tiket, dan batal deh. Kami lebih sering merayakan lebaran di rumah sendiri. Alasannya terlalu repot dan melelahkan mudik saat lebaran sambil memboyong anak-anak. Tiket susah dicari dengan harga melambung tinggi, mau bawa mobil sendiri rasanya suasana jalan kok tidak sekondusif dulu. Sehingga kami lebih memilih mudik di hari lain, Idul Adha atau kapan saja jika ada hari libur dan jadwal yang cocok. Akhirnya saat ini jika lebaran datang jadilah kami menikmati lebaran dirumah sendiri, menikmati mengerjakan segala sesuatunya sendiri, tidak ambil bagian desak-desakan di stasiun atau terminal atau di jalur macet lainnya. Bersilaturahmi kekelurga yang ada di Jakarta. Kalau mau di petik maknanya, pada lebaran lah saya merasa jadi ibu rumah tangga 100%, mengurus anak, suami dan rumah tangga. Ini pekerjaan yang tidak pernah selesai. Rasa empati kepada pembantu jadi muncul, ternyata pekerjaan mengurusi rumah dan anak-anak cukup membuat pinggang dan sekujur tubuh terasa pegal. Tapi saya sangat bersyukur dihari lebaran usai, anak-anak harus masuk sekolah, kami kembali bekerja, pembantu selalu datang pada waktunya. Sejauh ini kami tidak punya persoalan berarti dengan pembantu.

Tradisi mudik sepertinya memang sebuah fenomena menarik di negeri ini, sepertinya tidak ditemukan di negara lain. Dimana pada saat bersamaan terjadi mobilisasi penduduk besar-besaran, ini juga berarti pergerakan ekonomi yang cukup dahsyat ke kampung halaman. Mudik tidak memandang status sosial pemudik. Sepertinya ini sebuah tuntutan bathin yang harus terpenuhi. Kadang terasa tradisi mudik menjadi sangat tidak rasional. Pemudik kadang rela menghabiskan tabungannya dalam setahun hanya demi mudik, atau bahkan barangkali ada yang harus berhutang dan menderita dalam perjalanan.. Semua itu demi sebuah kata ”Silaturahmi”. Sebegitu mahalkah biaya untuk sebuah ”silaturahmi”. Barangkali tidak relevan membicarakan biaya untuk masalah ”bathin” ya? Bahkan perkembangan teknologi informasi yang pesat yang memungkinkan e-silaturahmi, sepertinya bagi orang kita terasa kurang afdhol, dan tidak akan berpengaruh signifikan dalam mengurangi jumlah arus mudik.

Entry Filed under: Selingan. .

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Subscribe to the comments via RSS Feed


Idrianita Anis



idrianita.jpg

Seorang dosen di Jurusan Akuntansi Fak. Ekonomi Universitas Trisakti, ibu dari dari dua anak, isteri dari seorang suami (klik di sini).

Idrianita is a member of :


Tulisan Saya Terbaru

Komentar Pengunjung

dhiaz di Weekend di Parai Beach Re…
sri sulandari di Buku Tamu
oki di Buku Tamu
temmy di Weekend di Parai Beach Re…
Indoproperty bsd di Bagaimana Pola Investasi …
mut di Audit Keuangan dalam Lingkup S…
Metha di Audit Sistem / Teknologi …
fitri afriani di Weekend di Parai Beach Re…
selvy di Workshop Analisis Laporan Keua…
Priscilia di Balanced Scorecard

Sering Dibaca Orang

Arsip

a

Halaman Blog

Blog Lain

Bloggers

Blogroll

Kuliah

Sejak 27 Apr 07

Khusus Admin

 

September 2008
S S R K J S M
« Mei   Nov »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930