Archive for September, 2008
Happy Birthday Nadya
Lima tahun yang lalu
Sebuah senyum manis dan mungil hadir menghiasi dunia
Tangis dan tawamu riuh mewarnai hari-hari
Perlahan kaki kecilmu melangkah, berlari, dan terjatuh
Jari-jemarimu menggapai-gapai kesana kemari…
Perlahan goresan tanganmu mulai memberi arti….
Kini kau menjelma menjadi seorang putri nan cantik…
Selalu ceria, pelipur lara, meredam duka…
Semoga setiap langkahmu selalu dalam Lindungan-Nya anakku
Di 5 tahun usiamu….teruslah melangkah
Tetaplah bermimpi setinggi langit
Dan kejarlah mimpi-mimpimu…..
Kau akan sampai di dalam sebuah realita
(Happy birthday ke 5 Nadya, Mama, Papa dan Abang sayang kamu.12 September 2008)
2 comments September 18, 2008
Mudik…..Silaturahmi…..
Terakhir kali saya mudik khusus untuk lebaran sejak menikah pada lebaran tahun 1997. Sekarang terasa sudah lama sekali tidak berlebaran di kampung halaman. Waktu itu kami belum punya anak, kami bisa pergi kapan pun kami mau tanpa persiapan dan rencana berarti. Tahun itu jika mudik dengan naik pesawat terasa sangat mahal sekali. Hanya ada Garuda dan Mandala yang terbang ke Padang dengan harga tiket Rp 700.000 – Rp 900.000 untuk satu kali perjalanan ke Padang di hari biasa. Kalau dihitung dengan inflasi 10%, harga tiket ini setara dengan Rp. 1,5 juta sampai Rp. 1,8 juta per orang untuk satu kali perjalanan. Luar biasakan? Alternative lain naik kapal laut dengan jadwal sekali dua minggu, naik bis dengan jadwal yang lebih fleksibel atau membawa mobil sendiri. Membawa mobil sendiri termasuk pilihan menarik saat itu, karena jauh lebih murah terutama jika bepergian lebih dari dua orang, dan suasana perjalanan cukup aman saat. Saat itu saya mudik dengan mobil sendiri berdua dengan suami. Sedikit bermacet ria menjelang naik ferry di pelabuhan Merak. Ada pengalaman tidak terlupakan saat itu, mobil kami kejeblos masuk got di belokan jalan lintas timur daerah Sumatra Selatan. Melihat kejadian itu mobil- mobil pribadi dibelakang kami pada berhenti untuk membantu menarik mobil. Tapi sayang sekali kondisi mobil tidak memungkinkan untuk ditarik karena kedua roda sisi kiri nyangkut di got yang berpondasi beton. Agak panic juga saat itu bagaimana cara keluarnya. Tidak lama kemudian lewat sebuah bis penuh penumpang dari arah berlawanan dan segera menepi. Penumpang laki-laki serentak turun dan segera membantu “mengangkat” mobil kami rame-rame. Alhamdulillah berhasil. Begitu besarnya solidaritas sesama pemudik dalam perjalanan di suasana lebaran tersebut, hanya dengan ucapan terimakasih merekapun pergi. Mereka tidak mau terima uang atas bantuan tersebut. Syukur mobil tidak terjadi apa-apa dan perjalanan bisa dilanjutkan. Setelah masuk Sumatra Barat kami sempat melewati daerah longsor, hujan dan di waktu malam pula.
Itulah saat-saat terakhir saya merasakan eforia mudik lebaran. memang sebuah tradisi tersendiri . Orang-orang bilang, “ kalian edan jalan jauh begitu berani amat jalan hanya berdua saja. Ya……begitulah adanya. Saya jadi bisa berempati terhadap mereka yang mudik dengan bis atau kereta yang tidak kebagian tempat duduk, atau mudik naik motor dengan jarak yang sangat jauh membonceng 2 anak dan ibunya plus barang bawaan yang tidak sedikit. Luar biasa perjuangannya. Bayangan betapa gembiranya bertemu sanak saudara, bersilaturahmi, sambung rasa seolah akan re-charge energi lagi saat balik ke Jakarta. (lagi…)
Add comment September 18, 2008
Image Management VS Earnings Management
Dalam persepsi saya image management adalah upaya yang dilakukan seseorang dalam membangun dan mengembangkan citra (image) diri sehingga dapat beradaptasi dengan lingkungan sosialnya dan pada akhirnya akan membantu yang bersangkutan meraih kesuksesan. Kemudian saat ini kita sering mendengar istilah ja-im (jaga image) yang konotasinya sedikit agak rancu. Ja-im bisa berkonotasi negatif atau positif. Barang kali ja-im positif dapat disetarakan dengan image management.
Jaim (ja-im) menurut Wikipedia adalah singkatan dari kata jaga-image yang merupakan suatu perilaku untuk menyembunyikan sikap yang sebenarnya dengan mengharapkan orang lain menganggap subjek sebagai seseorang yang memiliki kepribadian yang tenang, dan berwibawa. Jaim seringkali bukan merupakan perilaku yang sebenarnya, dalam arti yang positif jaim lebih dimaksudkan pada sikap untuk menjaga perilaku agar tetap tenang dalam menghadapi situasi yang sulit. Jaim tidak termasuk sebagai salah satu kosa kata Bahasa Indonesia. Namun penggunaannya menjadi semakin umum digunakan dalam pergaulan. Boleh tepatnya sebagai bahasa ”gaul”. (lagi…)
2 comments September 18, 2008

