Pelatihan Pra Purna Bhakti PT.Medco E&P Indonesia

Mei 16, 2008

Untuk pertama kali saya punya kesempatan terlibat sebagai trainer pada People Performance Consulting (PPC). Kali ini dalam “Pelatihan Pra Purna Bhakti PT.Medco E&P Indonesia” di adakan di Bali 12-16 Mei 2008, di Hotel Discovery Kartika Plaza, Kuta Bali. Pelatihan ini diberikan pada pegawai PT Medco E&P Indonesia yang berada dalam masa persiapan pensiun.

Rangkaian topik yang diberikan cukup menarik mulai dari, persiapan psikologis menghadapi masa pensiun, masalah kesehatan, membuat program / perencanaan keuangan masa pensiun, kiat-kiat entrepreneurship, sharing dari pelaku bisnis para pensiunan yang sukses di bidangnya serta kunjungan ke bisnis-bisnis yang dilakukan oleh para pensiunan yang berlokasi di Bali.

Seperti biasanya saya  sering kebagian topik terkait dengan urusan keuangan. Kali ini membuat program/perencanaan keuangan pada masa pensiun. Training saya awali dengan sedikit latar belakang teori Robert Kiyosaki tentang 4 kuadran posisi seseorang dalam memperoleh penghasilan, sekilas membaca dan memahami catatan keuangan rumah tangga, dan selanjutnya bagaimana memperkirakan serta menghitung kebutuhan biaya selama masa pensiun, kiat-kiat pengadaan dana, serta menyiasati kekurangannya. Terakhir tentang pengenalan beberapa produk  investasi yang dapat dipilih dalam mempersiapkan dana pensiun atau menyimpan dana pensiun.

Menarik juga bisa memberi tahu peserta di awal (sebelum masa pensiun) bahwa ternyata dana pensiun yang akan diterima nanti, yang terasa “seolah-olah” bernilai sangat besar saat ini, ternyata kalau diprediksi kedepan berdasarkan kebutuhan biaya hidup pensiunan, uang tersebut bisa habis sebelum waktunya, jika tidak disiasati dengan perencanaan dan teknik investasi yang baik. Selain pengenalan instrumen investasi yang seperti deposito, saham, reksadana, ORI, emas dll, Bapak Ade Ahmad Rozy, Ph.D, Managing Directur dari PPC, juga memberikan bekal kiat-kiat entrepreneurship, sebagai alternatif untuk lebih memproduktifkan dana pensiun yang diperoleh saat pensiun. 

Entry Filed under: Training. .

5 Comments Add your own

  • 1. Robby Permata  |  Juni 1, 2008 at 8:28 am

    foto yg kedua lucu deh…
    ekspresinya kyk guru yg lg menanyakan muridnya..

    ni Id : “ayo, pak.. masa’ gitu aja gak bisa?”..
    bapak yg pake kacamata : “iya bu.. (duh, galak banget ibu nya..).”

    hehehehe… :) just kidding..

  • 2. idrianita  |  Juni 1, 2008 at 9:17 pm

    Wah, Robi teliti juga ya…….

    iya nih….jadi kayak guru sekali ya…?
    Tapi sepertinya sesekali perlu begitu d…
    murid2 kadang -kadang butuh motivasi….:)

    Tapi khusus murid yang disini mudah-mudahan tidak merasa digurui, gurunya bisa -bisa “kualat” ntar…..
    Karena muridnyapun sudah sangat berpengalaman dibanding gurunya sendiri. Mereka umumnya sudah pada “ABG” (angkatan babe gue), jadi “dosa” dong kalau menggurui….
    he……he…..

  • 3. rozi  |  Oktober 13, 2008 at 10:40 am

    Ass Mbak Id, mohon maaf lahir bathin ya…
    Lagi browsing, eh..ketemu blognya.
    Btw, photo yang lagi “mborong” kaos JANGKRIK kok ga ada :-)

  • 4. riezka  |  April 8, 2009 at 10:14 am

    Ibu, Salam kenal..

    boleh minta contact personnya (No.HP, No.telp laen atau email pribadi)? langsung kirim ke email saja ya..
    ada hal yang perlu saya tanyakan..

    Terima kasih atas perhatiannya =)

  • 5. Dhimar  |  April 12, 2009 at 6:06 am

    Awal April 2009 yll. kantor saya (BUMN Asuransi Jasa Raharja) juga mengadakan pelatihan yang sama, di Sanur, Bali. Kendala umumnya bagi para peserta adalah switch mental dari mental pekerja yang umumnya > 25 tahun menjadi mental pengusaha/pebisnis/wirausaha. Serta nilai manfaat pensiun + THT yang relatif tidak sebanding dengan iming2 yang ditawarkan oleh para trainer. Untungnya ada dokter & psikolog yang memberikan alternatif antisipatif pasca pensiun. Yang menjadi pemikiran saya adalah, bagaimana mengelola diri sendiri, keluarga dan lingkungan agar tidak “sakit” – tidak harus dengan cara ” bisnis” – Itung-itungan pasti akan bangkrut kalau mengandalkan pengalaman sebagai pekerja dibelakang meja selama > 25 th. Mudah2-an pengalaman tsb. bisa menjadi masukan bagi konsultan sejenis, khususnya trainer bagaimana mengemas pelatihan bisnis bagi para “ABG” yang usianya rata2 > 50 th., bukan iming2 mimpi akan sukses menjadi pebisnis dalam waktu singkat, tetapi perlu ditekankan risiko bisnis di masa menjelang manula. Terima kasih kolomnya Ibu Iin.

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Subscribe to the comments via RSS Feed


Idrianita Anis



idrianita.jpg

Seorang dosen di Jurusan Akuntansi Fak. Ekonomi Universitas Trisakti, ibu dari dari dua anak, isteri dari seorang suami (klik di sini).

Idrianita is a member of :


Tulisan Saya Terbaru

Komentar Pengunjung

dhiaz di Weekend di Parai Beach Re…
sri sulandari di Buku Tamu
oki di Buku Tamu
temmy di Weekend di Parai Beach Re…
Indoproperty bsd di Bagaimana Pola Investasi …
mut di Audit Keuangan dalam Lingkup S…
Metha di Audit Sistem / Teknologi …
fitri afriani di Weekend di Parai Beach Re…
selvy di Workshop Analisis Laporan Keua…
Priscilia di Balanced Scorecard

Sering Dibaca Orang

Arsip

a

Halaman Blog

Blog Lain

Bloggers

Blogroll

Kuliah

Sejak 27 Apr 07

Khusus Admin

 

Mei 2008
S S R K J S M
« Apr   Sep »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031