Bagaimana Pola Investasi Anda?
April 14, 2008
Kemana sebagian besar anda menyimpan uang anda? Saya rasa sudah pasti sebagian besar menyimpannya dalam tabungan di bank dan kalau dirasa dana sedikit berlebih biasanya pindahkan ke bentuk simpanan lain. Saya pribadi termasuk orang yang berfikir jika dana berlebih<span maka deposito adalah prioritas bentuk pengalihan berikutnya, setelah itu barangkali ke bentuk investasi lain seperti beli emas sebagaimana pesan ibu dan nenek kita, yang dijual saat kepepet perlu uang. Bagi yang punya keberanian barangkali ada yang sudah mencoba sebagian porsi tertentu untuk invest di saham atau obligasi. Tetapi tipikal seperti saya merasa tentunya reksadana lebih aman ketimbang berinvestasi saham secara langsung. Barangkali diantara kita banyak yang sudah faham tentang reksa dana dan cukup tertarik hanya saja mungkin beberapa alasan misalnya merasa belum ada dana yang bisa dialokasikan di bentuk investasi tersebut, atau sebenarnya dana anda banyak tetapi merasa aman untuk menyimpannya dalam bentuk tabungan atau deposito saja, karena ada yang direncanakan dalam jangka pendek ( kurang dari setahun kedepan). Tentu saja ini tergantung profil resiko kita masing-masing, keterbatasan masing-masing namun tentunya jangan sampai keterbatasan pengetahuan yang membuat kita berada pada pilihan yang terbatas sehingga tidak mendapatkan hasil yang optimal. Jika dana memungkinkan investasi di property tentunya tidak kalah menarik.
Berikut beberapa hal yang saya rasakan seputar mengelola dana saya:
Menabung di bank memang terasa tidak menarik lagi sejak bunga tabungan drop pada kisaran 3% – 5,25%. Lantas apa lagi yang bisa diharapkan dari menabung di bank? Saya terbiasa meletakkan dana di tabungan hanya sejumlah operasional bulanan saja. Yang saya harapkan dari dana yang disimpan di bank ya sebatas fleksibilitas transaksi penarikan, pembayaran, transfer dan sebagainya. Dan memang hanya senjata ini yang dapat digunakan bank dalam menggaet nasabah tabungan. Sehingga gencarlah promosi fasilitas ATM, kartu debet, sms banking disamping iming-iming mendapat rejeki durian runtuh, dan undian mobil mewah yang cukup menggiurkan bagi tipical orang kita yang beranggapan siapa tau memang beruntung. Selain tingkat bunga yang sangat kecil masih dipotong lagi dengan beban pajak 20%. Walaupun pajak bunga bebas untuk saldo di bawah Rp. 7000.000. Dan biaya fleksibilitas transaksi harus ditanggung bervariasi tiap bank. Jika bank anda membebankan biaya administrasi Rp.10.000 maka paling kurang dana yang anda tabung harus menghasilkan bunga melebihi Rp. 10.000, jika tidak dana anda akan terus tergerus. Dengan bunga 3% paling tidak anda harus punya dana di tabungan Rp 10.000 : (1/12 X 3%) = Rp 4.000.000 per bulan. Jika kurang dari itu dana anda akan terus tergerus, sementara anda tentunya akan terus mengalami berkurangnya daya beli karena pengaruh inflasi.
Bagaimana dengan deposito? Bunga sedikit lebih tinggi dari tabungan, tergantung jangka waktu kisaran 6% – 7%. Sebenarnya masih kurang menarik ya? Tetapi tetap menjadi pilihan dan favorit bagi orang Indonesia, termasuk saya sendiri. Dengan berbagai alasan merasa lebih aman dan fleksibel jika ingin dicairkan diwaktu yang diinginkan. Kalau dilihat seberapa besar keinginan masyarakat meletakkan dana pada deposito, maka terbukti bahwa minat ini sangat tinggi, karena dana yang dihimpun dari deposito mencapai ratusan triliyun. Sebagai perbandingan dengan reksadana per 2006 dana terkumpul baru 60 triliun saja. Kinerja reksadana 5 tahun terakhir sebenarnya cukup bagus yaitu sekitar 20% per tahun. Indikator ekonomi juga cukup bagus sehingga reksadana bisa menjadi bentuk investasi yang prospektif ke depannya.
Lantas kenapa kok sebagian besar kita masih memiliki pola investasi seperti diatas ya? Apakah kita merasa belum cukup punya dana untuk berinvestasi di pasar modal seperti saham, obligasi atau investasi saham dan obligasi tidak langsung yang kita kenal dengan reksadana? Mungkinkah karena orang kita berpendapat investasi di pasar modal tidak cocok untuk orang awam? Semua alasan ini terbantahkan karena jumlah dana yang terkumpul dalam deposito sudah menggambarkan bahwa investor punya dana, takut akan resiko? Rasanya jaman sekarang tidak ada investasi yang bebas resiko karena menyimpan dana lebih dari Rp. 100 juta di bank juga menghadapi resiko, membuka usaha sekecil apapun tetap ada resiko. Jawaban yang pas sepertinya adalah orang kita masih tabungan atau deposito minded, dan sangat kurangnya edukasi tentang investasi di pasar modal tersebut.
Kalau difikir-fikir karena perilaku tersebut tentunya banyak sekali dana ada di perbankan, yang nanti perlu penyaluran ke perusahaan-perusahaan yang memerlukan dibanding dana yang langsung diterima perusahaan melalui pasar modal. Sehingga memang yang terjadi adalah bank-based economy ketimbang, market based economy sehingga jika kita melihat IHSG yang terus meningkat atau turun sepertinya boleh dibilang tidak terlalu menggambarkan kondisi perekonomian real (khususnya saya peribadi). Mungkin kedepannya suasana ini mudah-mudahan akan berubah, dengan meningkatnya porsi dana yang di investasikan di pasar modal.
Kapan kita merasa aman untuk berinvestasi di pasar modal (reksadana). Menurut saya sejauh kita dapat menyisihkan dana untuk keperluan tertentu, dan kita sudah paham aturan main berinvestasi di reksadana boleh segera dimulai. Untuk keperluan investasi dengan time horizon jangka panjang pilihan reksadana sangat tepat. Karena dalam jangka pendek sangat mungkin terjadi fluktuasi NAB sehingga besar kemungkinan situasi sangat tidak menguntung saat investasi akan dicairkan. Bentuk investasi ini cocok misalnya untuk tabungan pensiun, atau tabungan pendidikan. Beberapa hal yang perlu diketahui seperti Teknik memilih Manajer Investasi, Nilai Aset Bersih (NAB), Unit Penyertaan (UP), Selling fee yang dibayarkan saat membeli reksadana, Redemption Fee, yang dibayarkan saat menjual (redemption).
Bagaimana dengan investasi di emas? Investasi di emas termasuk investasi yang aman dari pengaruh krisis dan inflasi. Harganya biasanya dipatok dengan USD, yang selalu mengikuti inflasi Sehingga kita lebih merasa aman dari pengaruh penurunan nilai. Satu hal yang perlu diperhatikan tentunya apakah disimpan ditempat yang aman? Umumnya wanita pasti menyukai perhiasan emas. Orang tua saya bilang jika beli emas artinya berdandan sambil menabung. Membeli untuk perhiasan tentunya kita akan membayar sejumlah biaya tambahan (ongkos bikin) disamping nilai emas nya sendiri. Ongkos ini cenderung bervariasi antar penjual. Sementara saat dijual ongkos justru tidak dihitung sehingga ada kemungkinan rugi dari komponen ini. Tentunya akan terasa semakin rugi jika anda membeli perhiasan emas tetapi anda sendiri jarang memakainya. Oleh karena itu jika ditujukan untuk investasi akan lebih baik membeli emas batangan atau coin. Karena emas batangan dan coin dapat dijual tanpa dikurangi ongkos, dan memiliki sertifikat jaminan keaslian dan kadar yang jelas sehingga bisa dijual dimana saja.
Saatnya beli property? Mau sih suatu saat nanti kalau uangnya sudah cukup. Hampir dipastikan investasi diproperti semakin menjanjikan. Jumlah manusia bertambah terus lahan yang diperebutkan tetap segitu-gitu saja. Apa yang perlu diperhatikan katanya lokasi, lokasi dan lokasi. Ini paling signifikan menentukan nilai investasi.
Mari menata pola investasi.
Entry Filed under: Keuangan Keluarga. .
4 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>


1.
aNdRa | Mei 28, 2008 at 1:35 pm
waduh bu.. saya salah berinvestasi dong kalo gitu.. investasi yg saya dahulukan adalah properti dan ilmu.. huhuhu… *menangis tersedu*
2.
idrianita | Juni 1, 2008 at 9:40 pm
Mba Andra,
Saya juga lupa satu hal, ada satu investasi jangka panjang dgn potensial return unlimited (return tak hingga) yang dapat dilakukan?
Insya Allah saya sudah berinvestasi di ladang tersebut…….
Penasaran??
Jadilah “guru” atau “dosen” …..itu sebuah investasi longterm. Return duniawi (saat ini ) kecil sekali…..tapi InsyaAllah nanti di “reimburse” di akhirat…..he…..he….
3.
Mayarni | Agustus 5, 2008 at 3:04 pm
Id, yang baik hati, apakabar?
Sudah lama saya tidak berkunjung ke blognya Id, alhamdulilah siang ini tergerak hatinya untuk menyapa kembali.
Membaca tulisan Id, owww, serasa kuliah lagi dan gaya penyampaiannya sangat nyambung dengan ambo nan indak kuliah di ekonomi.
Terima kasih banyak infonya, semoga Id tambah sukses.
Saya sangat sependapat dengan Id tentang investasi yang tidka akan pernah habis, karena 3 hal yang akan tetap mengalir meskipun kita telah meninggal, yaitu….ilmu yang bermanfaat..alias jadi guru atau dosen. Saya juga masih ngajar di beberapa PT, khusunya HSE dan Lingkungan.
OK, Id yang kamek, sampai ketemu.
Wass.
May
4.
Indoproperty bsd | November 4, 2009 at 2:27 pm
artikelnya menarik, Bu…
tentang investasi, sangat cocok untuk sy yg juga sedang belajar ilmu ini
thnx