Apakah Perempuan Sebaiknya Bisa Memasak??
April 14, 2008
Jika pertanyaan ini diberikan kepada lelaki yang sedang mencari calon istri, kira-kira jawaban apa ya? Mungkin kata bisa harus disepakati terlebih dahulu. Bisa yang saya maksud disini adalah kemampuan untuk memasak level standar keperluan sehari-hari dalam keluarga dirumah, untuk diri sendiri, untuk suami atau untuk anak-anak atau jika sedikit diatas itu adalah jika sesekali dapat menyediakan makanan untuk keperluan keluarga lain misalnya jika ada tamu ibu/bapak kandung atau ibu/bapak mertua atau saudara kandung /ipar sekitar 4 sampai 6 orang. Kira-kira apa jawaban kaum lelaki ya? a) Ya, harus bisa tidak boleh ditawar lagi, b) tidak harus bisa, kan banyak yang jualan makanan c) Saat akan menikah tidak harus bisa, tetapi harus belajar agar segera bisa. Apapun jawabannya pastilah ada alasan untuk masing-masing jawabannya. Bahkan barangkali ada juga yang berpendapat untuk bisa memasak tidak harus karena alasan harapan para lelaki/suami. Wanita toh boleh memilih dong.
Banyak yang bilang perempuan makhluk hebat, karena dapat melakukan banyak hal multi fungsi, multi tasking. Pendek kata perempuan harus bisa bermain akrobat di rumah tangga, bisa cari uang, mengurus anak, mengurus suami, mengurus rumah termasuk memasak tentunya. Ya tentunya perempuan berhak menentukan apa yang disukai. Jika diperhatikan sejauh apapun perempuan mengatakan saya tidak suka memasak tetap saja pada saat tertentu akhirnya dia harus melakukannya paling tidak memasak hal yang paling sederhana. Pandangan masyarakat kita yang menganggap memasak adalah urusan perempuan.bisa jadi ada benarnya. Namun bisa juga memasak adalah syarat wajib bagi perempuan mungkin tidak benar juga. Tetapi apakah pola asuh mempengaruhi seseorang perempuan bisa memasak? Sepertinya memang begitu.
Sebenarnya Kemampuan memasak saya termasuk tidak excellent, kalau diberi skor skala 4 paling skor saya sekitar 2,75 sampai 3,25 (kalau menilai sendiri, penilaian suami atau orang lain yang pernah nyicipin masakan saya bisa saja berbeda). Saya tidak belajar memasak secara khusus, hanya berdasarkan pengalaman sejak kecil sejak saya dilibatkan memasak oleh ibu lebih kurang saat 7 tahunan. Waktu itu ibu membuat kue untuk dijual. Kami semua anak laki-laki dan perempuan kebagian tugas ada yang mengocok telur, mengayak tepung, mencetak, menyusun keplastik dan mengantar ke toko penitipan kue. Sebagai anak perempuan saya dan kakak perempuan juga ditugaskan menanak nasi atau memasak untuk keperluan kami semua. Pelan-pelan saya bisa memasak sendiri, tahu tentang bumbu-bumbu. Jika ada kesempatan main kerumah teman dan melihat ada masakan yang tidak pernah diajarkan dirumah saya sering bertanya cara masaknya bagaimana, dan sesekali saya mencoba memasaknya.
Sejak sudah menikah saya mencoba mengadaptasikan masakan saya sesuai selera suami. Saya banyak bertanya tentang makanan kesukaan suami dan cara memasaknya kepada ibu mertua. Walaupun kami berasal dari daerah yang sama ada perbedaan cara masak yang temui untuk masakan yang sama. Rendang resep ibu saya berbeda dengan rendang resep ibu mertua. Karena terbiasa memasak untuk suami pelan-pelan lidah sayapun ikut menikmati rendang dengan resep ibu mertua yaitu rendang dengan cabe yang sangat sedikit (suami sangat tidak kuat makan pedas) sehingga rendang jadi terasa manis, tetapi enak juga kok. Jika ingin memasak sesuatu yang lain saya sering mempraktekkan resep dari majalah atau buku masakan. Sesekali saya juga mencoba bereksperimen dengan masakan tertentu kadang hasilnya diluar dugaan “enak sekali” dan adakalanya meleset alias tidak seperti yang diinginkan. Tetapi selalu ada pelajaran yang dipetik dari sebuah eksperimen.
Sebagai wanita bekerja ada kalanya saya sangat letih untuk terlibat memasak setiap harinya. Tentunya ini saya atasi dengan mendelegasikan tugas ini kepada si mbak tentunya dengan memberi training singkat dulu sesuai dengan resep dan teknik masak ala saya. Seperti biasa sesekali terjadi juga “gap rasa “ antara masakan sendiri dan masakan si mbak. Hal ini yang selalu membuat saya merasa rindu untuk kedapur lagi untuk memasak pada hari-hari tertentu khususnya hari libur. Sekaligus ada rasa untuk ingin menyajikan sesuatu yang beda untuk keluarga di hari libur.
Apa yang dilakukan ibu terhadap saya saat saya kecil dulu mungkin tidak disadari oleh ibu bahwa itu adalah bagian dari pola asuh. Itu semua hanya berdasarkan keadaan dan kebiasaan di kampung kami bahwa anak perempuan harus bisa memasak. Ibu saya memang kewalahan untuk mencari penghasilan tambahan untuk keluarga, memasak untuk keluarga dengan 8 anak, 6 lelaki dan 2 wanita. Mau tidak mau memang saya dan kakak perempuan saya dilibatkan sejak dini membantu ibu didapur.
Point apa yang bisa ditarik dari perempuan jika bisa memasak? Yang pasti pengeluaran rutin sudah pasti lebih hemat. Masakan jadi biasanya harganya 2x sampai 3x lebih mahal. Tidak rasional selalu membeli jadi setiap kali mau makan. Dan saya juga ingin mengajarkan ke anak-anak untuk tidak selalu jajan. Bisa memasak memungkinkan kita memilih bahan makanan yang berkualitas untuk keluarga. Bisa memasak memungkinkan memberikan nilai kebersamaan yang lain bagi keluarga. Suatu kepuasan sendiri bagi saya saat keluarga mengatakan masakan saya enak. Kepuasan dan nilai kebersamaan-nya sesuatu yang tidak dapat dibandingkan dengan kepuasan menyantap masakan yang di restoran terkenal sekalipun.
Apakah sebagai ibu wajib mengajarkan memasak kepada anak-anak kita? Saya rasa jawabnya perlu. Bahkan tidak hanya kepada anak perempuan saja, anak lelakipun termasuk yang perlu diajarkan. Karena ini bagian dari ilmu kehidupan yang perlu dibekali ke anak-anak kita, karena ini menyangkut kemandirian mereka kelak. Hal yang terlihat sepele ini kadang-kadang lupa dan terlewat begitu saja karena dirumah ana-anak terbiasa dibantu oleh pengasuh mereka.
Mari libatkan anak-anak berekperimen di dapur.
Entry Filed under: Keluargaku. .
4 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

1.
idiluam | April 15, 2008 at 12:57 pm
- Minimal bisa masak nasi
)
- Jika bisa lebih menjadi nilai plus
- Punya kumpulan resep
ihh, kayak lowongan pekerjaan aja
Laki-laki bisa masak..? why not, itu bisa jadi nilai tambah juga.
Menurut saya jangan membebankan perempuan bisa masak,
tapi hargailah usahanya yg mau memasakkan buat kita, walau kadang kala rasanya kurang pas, tetaplah beri pujian dan yg pasti jangan pernah mencela masakan yg dibuat pasangan kita.
*g terasa komenku panjang, bisa jadi “bahan” nih
2.
aNdRa | Mei 28, 2008 at 1:04 pm
Menurut saya sih penting utk wanita (terutama yg ingin / sudah menikah) bisa masak. Jajanan untuk anak di luar rumah, banyak yang tidak ketahui bahan pembuatnya (bisa jadi anak2 terlalu banyak mengonsumsi bahan penyedap, pewarna, pengawet). Jika dirumah si ibu bisa menyajikan makanan yang lebih enak, tentunya akan mengurangi minat jajan anak.
Apalagi di kenaikan BBM saat ini, kalopun tidak memasak sendiri, misalnya jika punya pembantu selusin, tentunya si wanita bisa mengajarkan cara memasak yang enak & sehat pada pembantu2nya.
Halo bu, lamo indak jumpo ya… hehehe… apa kabar pak RS dan jagoan dan putri kecilnya…
3.
idrianita | Juni 1, 2008 at 9:57 pm
Mas Idiluam, Makasih idenya, setuju banget.
Mba Andra, sependapat…….!
Iya nih alah lamo nda jumpo ya…….
Saya lagi kehabisan energi untuk nulis akhir-akhir ini.
4.
Yusuf eka | November 5, 2008 at 1:58 pm
Salam kenal bu indrianita,
Mengenai memasak, saya setuju sekali dengan pendapat bu indri bahwa memasak itu perlu diajarkan kepada anak-anaknya baik laki-laki dan perempuan. Sejujurnya ini adalah pengalaman pribadi saya. Pada waktu orang tua saya masih ada, saya dulu males sekali untuk belajar masak hingga akhirnya mereka tiada, barulah terasa betapa berharganya segala pengalaman hidup mereka, diantaranya adalah ilmu memasak yg belum sempet diturunkan.
Untunglah saya mendapat istri orang minang (bukit tinggi juga bu, dari sianok). yah itulah untungnya dapet istri orang sedaerah, selera gak banyak beda, dan bumbu masaknya dah hampir sama lah dengan gaya masak ibuku.
thank u my wife.
ok deh itu aja komen pertama saya.
salam hormat untuk ibu dan juga suami, pak riri
(mantan muridnya di MTI).