Return Investasi TI, Bagaimana menghitungnya?

Mei 2, 2007

Istilah return atau imbalan/ pengembalian sering kita dengar dalam akuntansi atau menajemen keuangan yang berarti sesuatu pengembalian sejumlah nilai uang yang dapat dihasilkan nanti atas kegiatan pengorbanan sejumlah nilai uang tertentu saat ini dalam suatu kegiatan misalnya: Membeli saham, membeli mesin, membeli pabrik atau membuat alat tertentu. Dalam hal ini return yang dimaksud dapat dengan mudah dikenali, dapat berupa dividen, profit dan dihitung dalam persen untuk setiap kegiatan investasi. Estimasi perhitungan return diawal sebelum melakukan investasi tentunya memberikan masukan bagi investor untuk memutuskan apakah akan melakukan investasi atau tidak. Banyak metode yang dipakai dalam menilai kegiatan investasi ini seperti NPV, IRR, ROI method, EVA Method, Payback period.

Dapatkah konsep penilaian investasi yang sama diterapkan dalam menilai investasi di teknologi informasi (TI) ? 

 Jawabnya tentu saja bisa. Hanya saja sifat dari return yang diharapkan dari investasi TI tidak mudah diidentifikasi. Investasi TI seperti implementasi ERP, e-business solution, knowleage management solution, Custumer Relationship Management memerlukan investasi software, hardware, konsultansi, pelatihan dan infrastruktur komunikasi. Sehingga sangat sulit membuat kaitan antara investasi secara spesifik terhadap benefit yang diperoleh. Sehingga ada perbedaan signifikan dalam sifat investasi dan sifat dari return investasi TI. Terutama sifat return yang bersifat intangible dan relatif sulit di kuantifikasi.

Pendapat Michael E. Porter mengatakan bahwa investasi di TI memberikan keunggulan bersaing bagi perusahaan, karena investasi TI yang melekat dalam rangkai nilai (value chain) perusahaan potensial untuk menciptakan keunggulan bersaing. Menurut Michael E. Porter ada dua kelompok tujuan perusahaan mengadopsi teknologi informasi: A)Operational Efectiveness yang diartikan dapat melakukan aktivitas yang sama lebih baik dari pesaing dan B) Strategic positioning yang diartikan dapat melakukan kegiatan yang berbeda atau melakukan kegiatan yang sama dengan cara yang berbeda.

Kombinasi kedua tujuan diatas menyebabkan perusahaan dapat berada di 4 kuadran berikut yaitu: 1). Unfocus (Low Operational Efectiveness dan Low Strategic positioning). 2). Operation Focus (High Operational Effectiveness dan Low Strategic Positioning). 3). Market Focus (Low Operational Effeciency dan High Strategic Positioning). dan 4). Dual Focus ( High Operational Effectiveness dan High Strategic Positining).

Keputusan investasi TI adalah keputusan lanjutan yang dibuat setelah formulasi strategi bisnis dan strategi TI. Keselarasan strategis (strategic allignment) antara strategi bisnis dan strategi teknologi informasi disepakati merupakan hal yang sangat berpengaruh terhadap return (Intangible benefit / value) dari investasi TI. Ketidakselarasan akan terjadi dalam rentang dari — TI gagal mensupport strategi bisnis sampai — strategi organisasi gagal me-utilisasi sumber daya TI ( IT under utilization). Gap yang besar akan menyebabkan rendahnya IT delivery value yang dalam hal ini adalah return. Sejatinya tentunya return dapat diturunkan dari 4 posisi kuadran diatas.

Langkah-langkah penentuan investasi TI

Metodologi menghitung return merupakan suatu proses evolusi, tidak ada langkah yang benar-benar scientific, mungkin beberapa elemen terkesan subjektif tetapi paling tidak dapat dikatakan mendekati scientific. Tim ROI harus melakukan pendekatan konsultatif dengan business leader dan implementator TI inti, untuk menemukan cakupan projek ROI diantaranya: Penyiapan kasus untuk investasi TI, memahami sifat dan timing benefit yang diharapkan dari investasi TI, memproyeksikan biaya tetap dan tambahan, menurunkan rasio pengukuran benefit, dan mengkuantifisir, serta menganalisa biaya manfaat melalui penghitungan payback period dan IT Value Added. Tahapan yang perlu dilewati oleh Tim ROI adalah:

1. Mengenali dan mengidentifikasi inefisiensi sistem saat ini. Misalnya: Jam kerja tinggi untuk pekerjaan sederhana, duplikasi pekerjaan, jam supervisi tinggi, laporan tidak reliable, masalah skalabilitas dan sebagainya.

2. Definisikan kebutuhan proses bisnis. Nyatakan dengan jelas kebutuhan bisnis masa datang dan lakukan pencocokan proses bisnis dengan solusi TI.

3. Lakukan penilaian kualitatif melalui survey / kuesioner. Benefit secara keseluruhan dibuat berbentuk feedback rating matrix yang dapat terdiri dari parameter efisiensi yang diharapkan dalam proses internal, customer relationship management dan good governance.

4. Lakukan penilaian kuantitatif melalui collective forecasting. Setiap benefit dikuantifisir melalui proses estimasi / measurement ratio. Sebagai contoh: dalam kasus solusi CRM estimasi peningkatan dalam layanan customer dapat diukur.

Selain melakukan hal-hal diatas tim ROI juga harus melakukan penilaian kualitatif terhadap benefit melalui kuesioner, untuk 5 dimensi kunci bisnis berikut: Posisi bersaing, manajemen dan arus informasi, pengendalian dan efisiensi operasional, manajemen customer dan distributor serta suplier serta Corporate image.

Akhirnya tim ROI harus dapat mengkuantifikasi peningkatan area yang telah diidentifikasi melalui pengukuran rasio. Benefit yang dapat dikuantifikasi melalui : Peningkatan call eficiency ratio, utilisasi waktu dan pengurangan paper work, menurunnya kerusakan mesin karena monitoring lebih baik, penurunan jumlah inventory karena manajemen inventory lebih baik, proses biling lebih cepat dan akurat, peningkatan jumlah customer yang terlayani, pembuatan keputusan lebih cepat dan lebih baik, tambahan revenue dari penjualan produk atau jasa baru, dan lain-lain.

Bagaimanapun dalam melakukan kuantifikasi terhadap benefit investasi TI, selalu saja ada faktor yang menyebabkan menurunnya nilai benefit yang akan didapat diantaranya (Negative factor); Business Prosess Reengineering yang tidak berjalan sebagaimana seharusnya, turnover over user, rendahnya orientasi TI pegawai, competitor tidak melakukan investasi yang sama sehingga margin tidak bersaing dll. Sehingga pengaruh dari faktor negatif dapat dipertimbangkan sebagai diskon faktor terhadap ROI.

Justifikasi biaya atas investasi TI dapat diturunkan dari rumusan penghitungan investasi sebagai berikut:

                     Net Realizable benefits (total quantified benefit less total cost)

ROI (IT) = ________________________________________________

                                                 Total cost (capital + recurring)

                                                       Total Cost

Payback Period = __________________________

                                         Total quantified benefit

EVA (IT) = IT ROI less Weigted average cost of capital x Total IT Investment

Kesimpulan:

Kesuksesan bahwa TI dapat men-deliver value bagi perusahaan dapat terealisasi dengan adanya perencanaan TI dan implementasi yang terkendali. ROI adalah alat ukuran yang baik digunakan pada saat akuisisi karena ROI dapat memberikan 1) Justifikasi biaya dan biaya pemilikan 2) terpenuhinya estimasi benefit dan akuntabilitas. Pengukuran IT benefit merupakan proses berkesinambungan. Perlu adanya kriteria pengendalian untuk mengukur semua proses terkait seperti akuisisi, implementasi, stabilisasi serta upgrade system. Kriteria mencakup feasibility, benefit realization goals, audit dan survey performa TI

Entry Filed under: IT Investment. .

34 Comments Add your own

  • 1. edratna  |  Mei 20, 2007 at 1:48 pm

    Ada istilah teman-teman, bahwa menggunakan IT di perusahaan dapat diibaratkan menunggang macan…artinya investasinya harus terus menerus, disesuaikan dengan kebutuhan bisnis yang juga terus berubah. Disinilah letak sulitnya mengukur, karena pada saat implementasi, dan orang bisnis mulai memahami, maka semakin banyak permintaan dari bisnis untuk mengembangkan IT.

  • 2. Idrianita Anis  |  Mei 21, 2007 at 1:22 pm

    Yup Mba Ratna….
    Menghitung return investasi TI akhirnya menjadi sebuah seni. Unsur scientifiknya ga susah-susah amat. Menyamakan persepsi yang susah. Saat menghitung feasibility orang bisnis rada susah membayangkan intagible benefit yang akan didapat….(barangkali orang TI lagi susah juga mikiran bagaimana menyampaikan benefit yang didapat dalam bahasa yang tepat) mungkin ada problem komunikasi juga disini. Di saat sudah implementasi formulasi ukuran pencapaian juga belum dibuat. (Memang rada susah juga menemukan formulanya). Sembari itu waktu berjalan terus, kita masih berkutat ngitung return investasi kemaren, produk TI yang baru muncul lagi, yang kemaren jadi ketinggalan. Berinvestasi TI memang harus hati-hati di penghitungan “Payback period” karena barang TI umumnya life cycle pendek. Kalo ga….. memang bakal menjadi seperti menunggang macan…..mabok
    Anyway makasih komentarnya Mba :)

  • 3. osinaga  |  Mei 24, 2007 at 4:02 pm

    benar bu Iid ulasannya menarik sekali ,

    tp malah terkadang saya mikir selama IT itu cuma jadi support di suatu company maka IT akan selalu jd cost center. IT akan jadi profit center bila IT itu sendiri adalah core business company itu. misalnya IT di perbankan selamanya akan jadi cost center tp IT di software house adalah profit center.. bener ga sih bu? mohon pencerahan.

  • 4. idrianita  |  Mei 25, 2007 at 10:54 am

    Bang Sinaga,…..
    Konsep Cost Center, Profit Center dan Investment Center adalah konsep penilaian kinerja dalam perusahaan untuk menilai kinerja departemen atau suatu unit bisnis tertentu. Jika suatu unit hanya dapat mengontrol aspek cost saja, jadilah dia sebagai Cost center misalnya departemen produksi, tetapi jika suatu unit juga diberi juga wewenang untuk menjual sesuatu yang dihasilkan, jadilah dia profit center departemen pemasaran, yang mana profit tentunya didapat setelah pertanggungjwab biaya juga dilakukan. Sedangkan jika suatu unit juga diminta pertanggunggung jawaban atas nilai investasi yang ditanam di unit tersebut jadilah unit tersebut investment center yg harus btanggung jawab atas cost, revenue dan sekalian ROI contohnya penilaian kinerja sebuah bisnit unit.
    Dalam Kasus fungsi TI diperusahaan manapun saya rasa penilaian kinerja bisa berada pada ketiga range diatas, tergantung perusahaan dalam memberdayakan fungsi TI pada level mana.
    Menurut Michael Porter pada dasarnya ada 2 fungsi utama TI diperusahaan yaitu 1) Meningkatkan Value added pada primary activity (Operation Efektiveness/OE) dan 2) TI untuk menunjang keunggulan bersaing melaui penciptaan produk baru dan memperluas pangsa pasar (Strategic Positioning/SP.) Kondisi perusahaan dapat dijelaskan pada 4 kuadran:
    -Kuadran 1 : Unfocus (Low OE dan low SP)
    -Kuadran 2: Operational Efectif (High OE dan Low SP)
    -Kuadran 3: Market Focus (Low OE dan High SP)
    -Kuadran 4: Dual Focus ( High OE dan High SP)

    Selagi perusahaan masih berada di kuadran 1 maka saya rasa fungsi TI masih dipandang sebagai cost center, sehingga penilaian kinerja jadi tidak diperhatikan.
    Sedangkan jika perusahaan mulai memperhatikan aspek benefit dari penerapan TI, maka perlahan mereka akan pindah kwadran sehingga sebuah investasi TI, atau pengeluaran TI selalu dinilai aspek benefitnya. Sehingga dilevel kuadran 1 menuju 2 yang diperhatikan masih manfaat efisiensi yang dapat ditawarkan oleh sebuah investasi. Menghitungnya pakai sistem chargeback (perlu kuliah sendiri juga tentang ini), berapa nilai investasi TI yang harus di-charge terhadap unit lain yang mendapatkan manfaatnya, dan selanjutnya jika ada revenue dihasilkan dari TI juga dimasukkan untuk menjudge apakah TI feasible diteruskan.
    Di bank misalnya TI benar-benar sudah bisa dimasukkan ke kuadran 3 atau 4. Semakin tinggi volume transaksi, revenue dari jasa TI makin tinggi sehingga makin cepat menutupi nilai investasi dan juga peningkatan pendapatan dari efektifitas penyaluran dana (bunga). Di sofware house pun demikian kita perlu liat dulu invest IT banyaknya untuk apa?
    Saya rasa begitu. Salam :)

  • 5. edratna  |  Mei 31, 2007 at 11:52 am

    Jadi ikut nimbrung lagi..rasanya jadi cost center atau profit center adalah tergantung dari tujuan perusahaan tadi.
    Misalkan IT perbankan, bisa juga di buat jadi profit center, dan kalau belum bisa minimal break even point.

    Ini sama seperti Divisi Pelatihan dan Pendidikan, ada yang mengatakan bahwa Diklat selalu jadi cost center…padahal tidak. Diklat bisa jadi profit center, jika Diklat tadi juga mempunyai bagian marketing dan dapat menjual jasanya pada pihak lain.

    Kenyataannya, karena selama ini IT perbankan adalah mensupport business (IT follow the Business), maka masih dikategorikan cost center. Karena strategi perusahaan, selalu dimulai dari bagaimana agar perusahaan untung? Apa yang dilakukan oleh orang bisnis…dan bidang lain mensupport bisnis. Bidang Diklat, strateginya adalah mendukung strategi SDM untuk mendidik SDM berkualitas, sehingga dapat menjadi orang-orang bisnis yang handal dan mencapai target laba…..

  • 6. Idrianita Anis  |  Mei 31, 2007 at 3:32 pm

    Yup…..Mbak Ratna…makasih atas tambahan keterangannya :)

  • 7. Wayan Budi  |  Agustus 29, 2007 at 6:18 pm

    Bu Ratna, secara singkat kira-kira bagaimana menekankan kepada masyarakat awam kapan TI dikatakan biaya dan kapan sebagai investasi. Mengingat kebanyakan segmen saya adalah pemilik usaha yang level menengah. Kadangkala sangat sulit memberikan definisi yang mendekati pola pandang mereka.

    Saya hanya mendefinisikan kalau beli komputer lalu gak dipake untuk pengembangan usaha maka itu biaya, tapi kalau dengan adanya pemanfaatan komputer untuk usaha, maka bisa dikatakan sebagai berinvestasi.

    Mohon pencerahannya.
    Terima kasih.

  • 8. idrianita  |  September 2, 2007 at 5:20 pm

    Pak Wayan Budi,

    Investasi menurut konsep akuntansi adalah pengeluaran dalam jumlah yang signifikan yang akan memberikan manfaat lebih dari satu tahun. Komponen nilai investasi (di aset tetap) secara tahunan nanti akan di akui sebagai beban depresiasi.

    Beban (expense) adalah pengeluaran yang dilakukan secara rutin atas manfaat yang diterima dalam jangka pendek.Orang awam sering menyebut beban (expenses) dengan kata ‘biaya’.
    Secara akuntansinya justru pengeluaran untuk investasi yang disebut sebagai biaya (cost). Cost adalah suatu pengeluaran yang memberi manfaat lebih dari satu tahun.

    Dalam konteks TI kalau yang anda beli hanya komputer dengan spec tertentu. itu baru Hard ware boleh dibilang investasi. Tetapi agar H/w yang ada jadi bermanfaat tentunya perlu diisi dengan S/w yang anda perlukan yang berisi data-data atau transaksi usaha anda. Pengembangan sistem (s/w) yang sesuai dengan bisnis sendiri, juga dapat dikatakan sebagai investasi. Bisa jadi s/w dibeli jadi atau dikembangkan secara khusus. ini terjadi sekali didepan. jika sudah ada yang dua hal ini. dlam periode berjalan anda masih butuh koneksi terhadap data, saluran komunikasi, dan beban-beban lain terjadi secara rutin. ini disebut sebagai beban.

    Manfaat yang didapat dari investasi Ti tersebut……anda terbantu dong dengan proses pembuatan laporan yang menjadi mudah, mengetahui dnegan cepat segala sesuatu tentang bisnis anda. Jika ini tidak didapat….mungkin ada yang salah dengan pendefinisian kebutuhan sistem anda. Semoga bermanfaat. :0

  • 9. Tomi Setiawan  |  September 19, 2007 at 5:11 pm

    Saya menemukan artikel ini ketika mencari artikel2 tentang penghitungan ROI di TI. Saya saat ini sedang menulis tesis mengenai implementasi SI pada salah satu bidang usaha, dalam hal ini bengkel. Wah,.. terima kasih sekali untuk Bu Idrianita karena tulisan ini membawa pencerahan.

    Terus menulis Bu,.. dan Salam Kenal. :-D

  • 10. idrianita  |  September 23, 2007 at 11:48 pm

    Mas Tomi,
    Salam Kenal juga, silahkan dibaca semoga bermanfaat.

  • 11. muliaarif  |  Oktober 2, 2007 at 5:04 pm

    Mbak, punya matrix gak yang lebih mudah di fill-in yang isinya items yang harus dimasukkan sebagai faktor yang dihitung, biar lebih aplikatif. Oya, terima kasih dah nulis artikel ini. Tetap nulis ya mbak! Tetap Semangat!

  • 12. idrianita  |  Oktober 4, 2007 at 9:44 am

    Mulia Arif,
    Saya punya sih matriksnya……terlalu panjang untuk dimuat di blog juga belum sempat menuliskan dalam versi lebih pendek.
    Thank anyway

  • 13. muliaarif  |  Oktober 4, 2007 at 9:50 am

    Kalo udahan, aku dikirimin ya Mbak, bisa lewat emailku, aku butuh banget. Makasih ya Mbak, semoga sedekah ilmunya digantikan Allah dengan yang lebih baik lagi. Aamiin….

  • 14. cimon  |  November 1, 2007 at 3:09 pm

    Mbak, bagaimana cara mengukur depresiasi mesin ATM. semakin umurnya bertambah avaibality menyusut berapa % Mohon pencerahan

  • 15. idrianita  |  November 15, 2007 at 2:53 pm

    Cimon,
    Mesin ATM kalau di Akuntansi tuh dianggap aktiva tetap yang harus didepresiasikan. Berapa nilai yang akan didepresikan per tahun didasarkan pada estimasi secara teknisnya berapa lama ATM tersebut layak dipakai. Soal pertimbangan teknis ahlinya akan lebih tahulah berapa umur yang wajar dari sebuah mesin ATM. Pertimbangan teknis tentunya mencakup kelayakan teknologi. Akhirnya jika sudah sampai pada hitungan masa pakai, juga perlu estimasi berapa nilai mesin ATM setelah dipakai dalam masa ekonomis tersebut. Harga beli kurang nilai sisa, nilai itulah yang akan didepresiasikan selama masa pemakaian. Saya rasa untuk mesin ATM masa pakai bisa jadi sekitar 5 sampai 8 tahun.

  • 16. Kurnia  |  Desember 4, 2007 at 2:18 pm

    Mengenai Ulasan tentang investasi IT tsb diatas bagaimana dengan investasi IT dengan system sewa/sewa beli (system Ijarah / IMBT dalam perbankan syariah) bagaimana kita menghitung ROI dan perbandingannya dengan kalau kita membeli tunai, adakah referensi yang bisa dipelajari

    Terima kasih

  • 17. idrianita  |  Desember 12, 2007 at 1:34 pm

    Kurnia

    Pada saat kita bicara soal Investasi yang menjadi masalah adalah Investasi apa yang akan dilakukan, berapa tingkat return pertahun, berapa lama balik modal investasi tersebut. Untuk menghitung ini biasanya dilakukan feasibility study yang akhirnya menentukan apakah suatu investasi di teruskan atau tidak.

    Untuk investasi TI yang berbeda adalah teknik menghitung returnnya. Karena investasi TI tidak hanya mengahsilkan return dalam nilai financial yang dapat kita hitung dalam formula ROI konventional, tetapi juga ada didalamnya intangible benefit yang dapat diuraikan lebih detil lagi.

    Nilai investasi biasanya nilai yang diketahui. Karena informasi tentang apa yang akan dibeli saat ini tersedia di pasar. Aspek benefit merupakan sesuatu yang akan dihitung, dengan ramalan berbasiskan pengalaman operasional.
    Sekali sudah terhitung layak dan diputuskan berinvestasi di TI, tindakan selanjutnya adalah masalah pembiayaan. Tentunya sebelum memutuskan layak atau tidak sudah ada pertimbangan sumber pembiayaan. Apakah semua barang IT tersebut di beli tunai atau sistem sewa. Apakah tunai atau sewa itu adalah masalah pembiayaan. Hal ini sama perlakuannya dengan investasi konvensional. Pada sistem syariah yang biasanya menetapkan nilai sewa berdasarkan nilai pasar barang yang diperjual belikan pada akhir tahun masa sewa seyogjanya ini juga dilakukan. Tapi seperti ini memerlukan perhitungan yang cukup rumit bagi perbankan sebagai penyedia dana.

  • 18. anton yanuar  |  April 13, 2008 at 3:34 pm

    Mbak, aku minta tolong yah… kasi contoh cara perhitungan metode payback period sama metode NPV donk Mbak…please aku butuh banget…. tmakasih Mbak.. kirim ke email aku di antonyanuar@gmail.com

  • 19. idrianita  |  April 18, 2008 at 8:13 pm

    Anton Yanuar,

    Payback period merupakan metode pemilihan investasi berdasarkan kriteria mana yang paling cepat mengembalikan modal, tidak melihat manfaat jangka panjang investasi.
    Sedangkan NPV merupakan metode pemilihan dengan menjumlahkan discounting estimated return investasi masa datang dan ditambahkan ke Initial outflow investasi. Alternatif investasi dengan NPV positif merupakan investasi yang dianggap baik.

  • 20. anjar  |  Mei 5, 2008 at 10:02 am

    saya sedang meneliti berkaitan dengan Investasi Teknologi Informasi, mungkin banyak hal yang perlu saya diskusikan. Bisa ga ya? thanks before. anjar

  • 21. albirr  |  Mei 23, 2008 at 6:21 pm

    assalamu’alaikum
    mampir bagi-bagi ilmunya
    http://www.albirrujilbab.wordpress.com

  • 22. Ridzal  |  Juni 7, 2008 at 5:42 pm

    sebenarnya saya tertarik dengan tulisan ibu. Namun saya berharap ada tulisan mengenai referensi darimana sumber tulisan sebagaimana biasanya para ahli, praktisi, serta pemerhati memberikan space informasi referensi itu. dalam menulis.

    saya butuh itu mungkin barangkali saya bisa elaborate lebih jauh ke sumbernya langsung mengenai tulisan2 ibu yang menarik khususnya yg berkaitan dengan IT Governance dan Investment.

    terimakasih
    rgds
    Ridzal

  • 23. gatot  |  Juni 10, 2008 at 4:26 pm

    boleh minta contoh kasusnya ga Bu.
    saya lagi skripsi tentang Information Economics nih…

    boleh kirim ke gatot.noviantoro@yahoo.com

    terima kasih

  • 24. ni3ta  |  Juni 12, 2008 at 1:59 pm

    ass. bu saya agak tertarik dengan tulisan anda ttg ROI, karena saya lagi dalam proses skripsi dengan judul “analisis penilaian kinerja perusahaan dengan ROI dan RI” , tlg sy dibantu seputar ROI dan RI. mungkin ada referensi. terima kasih. blh dikirim ke btg_nyi3t@yahoo.co.id

  • 25. Dodi  |  Juni 20, 2008 at 10:12 am

    Ibu, terima kasih sekali materinya, sangat membantu saya yg sedang bergulat tentang ‘Information Economics’, selama ini bahasan IE tersebut saya dapatkan dari eBook atau download. Apakah sdh ada cetakan versi indonesia-nya ? kuatir salah pemahaman akibat beda bahasa.
    Thanks atas infonya.

  • 26. Sarman  |  Juli 14, 2008 at 6:05 pm

    saya tertarik dengan tulisan ibu, klo memungkinkan saya minta ditambahkan juga mengenai perhitungan benefitnya
    terimah kasih

  • 27. Erina  |  Oktober 13, 2008 at 11:49 pm

    Bu saya sangat tertarik dengan artikel ibu karena saat ini saya sedang mengerjakan skripsi cost benefit analysis u/ IT investment dari ERP system
    Apakah saya bisa mendapatkan referensi berupa e-book atau literatur nya bu ? Blh dikirim ke er1n_mail@yahoo.com
    Terima kasih banyak bu

    Best Regards,

    Erina

  • 28. dhie  |  November 23, 2008 at 4:07 pm

    Bu Ratna, saya mo nanya literatur yang menjadi panduan tulisan Ibu di atas dan bagaimana penerapan rumus itu ke dalam laporan keuangan na, mohon di jabarkan…mohon bantuan dan bimbingan na karna saya sedang melakukan skripsi tentang investasi TI kaitan na dengan kinerja keuangan…terima kasih banyak Bu..

  • 29. myta  |  Desember 13, 2008 at 8:58 am

    Bu ratna , saya pingin tanya seberapa besar dampak eva dan roi terhadap harga saham??

  • 30. Icha  |  Desember 23, 2008 at 12:23 am

    Saya juga sedang melakukan penelitian untuk skripsi mengenai keuntungan dari penerapan IT Governance bagi perusahaan…tulisan ibu dan comment2ny sangat membantu dan memberi pencerahan bagi saya….saya mohon bantuan mengenai buku2 literatur apa saja bu yang bisa saya baca??salah satunya Ibu menyebutkan buku dari Michael Porter, boleh saya tau edisi yang mana bu?agar saya dapat mempelajarinya…selain buku tersebut buku literatur berbahasa Indonesia mengenai hal ini kira-kira apa ya bu???terimakasih bu…

  • 31. ekki moch  |  Januari 20, 2009 at 11:37 pm

    bisa minta tolong jawab yang ini nggak??
    1.dalam pendekatan IT value chain management. Seharus-nya, proyek TI bertujuan peningkatan profitabilitas, dengan peningkatan pendapatan dan pengurangan biaya. Jadi dalam ROI investasi TI hal-hal apa saja yang di pandang layak untuk dilakukan-nya investasi TI ini.

    2. Benefit Value apa dari dilaksanakannya investasi TI

    klo bisa jawabannya bls ke email saya y mbak lovanillalots@hotmail.com
    thanks bnget,,butuh bngt masukannya…

  • 32. jubaedah  |  Mei 4, 2009 at 6:55 am

    Bu saya sangat butuh bahan2 untuk analisis investasi, saya mohon bantuannya.
    bila di perbolehkan, saya minta rumus2 tentang evaluasi investasi (BEP, Payback Period, Dll), klo tida merepotkan saya minta contoh-contoh kasusnya.
    saya sedang ikut penelitian dan saya dapat tugas menganalisa di bagian tekno ekonomi,
    saya minta tolong kalau punya file nya saya minta di kirimkan ke email saya jubaedah_b@yahoo.co.id.

    sebelumnya saya ucapkan banyak terima kasih

  • 33. pradana  |  Mei 16, 2009 at 7:33 pm

    Utk Buku mungkin bisa baca buku “Kajian Strategis COST BENEFIT Teknologi Informasi – Panduan investasi pengembangan TI di perusahaan” karangan Dr. Ricardus Eko Indrajit. Di sana di ulas lengkap semua pertanyaan2x anda. Semoga ini bisa membantu. ^_^

  • 34. STELLA  |  Juni 17, 2009 at 12:16 pm

    Bu kalo saya sedang menjelang skripsi dengan tpok bahasan analisa investasi TI. Rencana menggunakan metode Information Economics. Bagaimana pendapat Ibu tentang itu

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Subscribe to the comments via RSS Feed


Idrianita Anis



idrianita.jpg

Seorang dosen di Jurusan Akuntansi Fak. Ekonomi Universitas Trisakti, ibu dari dari dua anak, isteri dari seorang suami (klik di sini).

Idrianita is a member of :


Tulisan Saya Terbaru

Komentar Pengunjung

dhiaz di Weekend di Parai Beach Re…
sri sulandari di Buku Tamu
oki di Buku Tamu
temmy di Weekend di Parai Beach Re…
Indoproperty bsd di Bagaimana Pola Investasi …
mut di Audit Keuangan dalam Lingkup S…
Metha di Audit Sistem / Teknologi …
fitri afriani di Weekend di Parai Beach Re…
selvy di Workshop Analisis Laporan Keua…
Priscilia di Balanced Scorecard

Sering Dibaca Orang

Arsip

a

Halaman Blog

Blog Lain

Bloggers

Blogroll

Kuliah

Sejak 27 Apr 07

Khusus Admin

 

Mei 2007
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031