Keep it simple
April 27, 2007
Cerita ini saya terima dari seorang kawan, sepertinya bagus juga untuk direnungkan. Saya temukan juga kisah yang mirip dengan cerita ini sehingga saya tambahkan, siapa tahu bermanfaat.
Sering kita terjebak dalam suatu persoalan, yang kadang menyita banyak energi untuk mencari solusinya. Tidak tenang dalam berfikir akhirnya menghasilkan suatu solusi yang berbiaya besar, sehingga malah menimbulkan persoalan yang baru. Padahal adakalanya persoalan tersebut sebenarnya adalah sebuah persoalan sederhana yang jika difikirkan denga tenang dan sabar akan memberikan solusi sederhana yang hasilnya juga tidak kalah memuaskan.
Salah satu peninggalan kerajaan Ottaman di Turki yaitu Mesjid Biru, dibangun pada tahun 1603-1617 pada masa pemerintahan Sultan Ahmed I. Sultan Ahmed I dikenal sebagai raja yang tegas, namun memerintah dalam keterbatasan ekonomi. Ia tidak segan-segan memecat pegawainya yang tidak becus. Saat itu sang raja meminta arsitek Sedefkar Mehmed Aga untuk membangun mesjid yang terbuat dari emas. Sang arsitek sungguh bingung memikirkan dari mana biaya untuk pembangunan mesjid tersebut. Sementara sang raja terlalu sibuk untuk diajak berdiskusi tentang pembangunan mesjid ini. Dengan mempertaruhkan karirnya dan hidupnya, tiba-tiba sang arsitek dengan kreatif menginterpretasikan keinginan sang raja. Akhirnya selesai dibangun sebuah mesjid dengan enam menara yang tidak terbuat dari emas. Dalam bahasa setempat enam dan emas mempunyai kata yang hampir sama. Enam = alti, sedangkan emas = altin. Pada saat mesjid sudah jadi sang arsitek mengatakan bahwa saat diminta dia mendengar raja meminta mesjid dengan 6 menara. Tetapi rupanya sang raja tidak bisa menolak, karena ternyata mesjid tersebut memang sungguh indah.
Kasus lainnya kotak sabun yang kosong, yang terjadi di salah satu perusahaan kosmetik yang terbesar di Jepang. Perusahaan tersebut menerima keluhan dari pelanggan yang mengatakan bahwa ia telah membeli kotak sabun (terbuat dari bahan kertas) kosong. Dengan segera pimpinan perusahaan menceritakan masalah tersebut ke bagian pengepakan yang bertugas untuk memindahkan semua kotak sabun yang telah dipak ke departemen pengiriman. Karena suatu alasan, ada satu kotak sabun yang luput dan mencapai bagian pengepakan dalam keadaan kosong.
Tim manajemen meminta para teknisi untuk memecahkan masalah tersebut. Dengan segera, para teknisi bekerja keras untuk membuat sebuah mesin sinar X dengan monitor resolusi tinggi yang dioperasikan oleh dua orang untuk melihat semua kotak sabun yang melewati sinar tersebut dan memastikan bahwa kotak tersebut tidak kosong. Tak diragukan lagi, mereka bekerja keras dan cepat tetapi biaya yang dikeluarkan pun tidak sedikit.
Selanjutnya masalah yang sama terjadi disebuah perusahaan kecil. Karyawan diminta memikirkan masalah ini, dan menemukan solusi yang sederhana. Ia membeli sebuah kipas angin listrik untuk industri yang memiliki tenaga cukup besar dan mengarahkannya ke garis pengepakan. Ia menyalakan kipas angin tersebut, dan setiap ada kotak sabun yang melewati kipas angin tersebut, kipas tersebut meniup kotak sabun yang kosong keluar dari jalur pengepakan, karena kotak sabun terbuat dari bahan kertas yang ringan.
Pada saat NASA mulai mengirimkan astronot ke luar angkasa, mereka menemukan bahwa pulpen mereka tidak bisa berfungsi di gravitasi nol, karena tinta pulpen tersebut tidak dapat mengalir ke mata pena. Untuk memecahkan masalah tersebut, mereka menghabiskan waktu satu dekade dan 12 juta dolar. Mereka mengembangkan sebuah pulpen yang dapat berfungsi pada keadaan-keadaan seperti gravitasi nol, terbalik, dalam air, dalam berbagai permukaan termasuk kristal dan dalam derajat temperatur mulai dari di bawah titik beku sampai lebih dari 300 derajat Celcius. Tahukah anda apa yang dilakukan orang Rusia? Mereka menggunakan pensil !
Suatu hari, pemilik apartemen menerima komplain dari pelanggannya. Para pelanggan mulai merasa waktu tunggu mereka di pintu lift terasa lama seiring bertambahnya penghuni di apartemen itu. Pemilik apartemen tersebut lalu mengundang sejumlah pakar untuk mengatasi masalah tersebut. Satu pakar menyarankan agar menambah jumlah lift. Tentu, dengan bertambahnya lift, waktu tunggu jadi berkurang. Pakar lain meminta pemilik untuk mengganti lift yang lebih cepat, dengan asumsi, semakin cepat orang terlayani. Kedua saran tadi tentu memerlukan biaya yang tidak sedikit.
Tetapi, satu pakar lain hanya menyarankan satu hal, “Inti dari komplain pelanggan anda adalah mereka merasa lama menunggu”. Pakar tadi hanya menyarankan untuk menginvestasikan kaca cermin di depan lift, agar pelanggan teralihkan perhatiannya dari pekerjaan “menunggu” dan merasa “tidak menunggu lift”.
Moral cerita ini adalah sebuah filosofi yang disebut KISS (Keep It Simple Stupid), yaitu selalu mencari solusi yang sederhana, sehingga bahkan orang bodoh sekalipun dapat melakukannya. Cobalah menyusun solusi yang paling sederhana dan memungkinkan untuk memecahkan masalah yang ada. Maka dari itu, kita harus belajar untuk fokus pada solusi daripada pada berfokus pada masalah.
Entry Filed under: Renungan. .

Subscribe to the comments via RSS Feed