Corporate Governance dan IT Governance

April 27, 2007

Corporate governance atau sering disebut sebagai tata kelola perusahaan mulai santer dibicarakan saat terjadinya berbagai skandal di dunia bisnis. Pada masa krisis ekonomi tahun 1997 persoalan tata kelola semakin terlihat. Terjadinya kasus Enron sebuah perusahaan energi global yang kolap tiba-tiba, sangat menggegerkan dunia, Kennet Lay selaku CEO mengaku tidak bersalah atas apa yang terjadi walaupun akhirnya dinyatakan bersalah dan dipenjara. Bernie Ebber CEO World com menyatakan hal yang sama “tidak bersalah” atas skandal terjadi diperusahaannya, namun CFO Scott Sullivan mengaku bahwa CEO memintanya untuk menyembunyikan biaya dan “menaikkan revenue”. Ebbert akhirnya juga dinyatakan bersalah dan masuk bui. Jamie Olies CEO Dynergy juga terbukti bersalah dalam mengelola proyek gas. Ia pun mengaku tidak bersalah. Namun akhirnya juga masuk bui.

Skandal-skandal yang terjadi di perusahaan semakin menunjukan pentingnya masalah tata kelola perusahaan (corporate governance). Media semakin gencar mempublikasikan ukuran-ukuran tingkat kepatuhan atas pengendalian. Senator Paul Sarbanes dan Representatif Michael Oxley meresmikan undang-undang Sarbanes-Oxley Act (SOX or Sarbox) pada Juli 2002. Undang-undang ini menekankan agar perusahaan meletakkan internal control sebagai top prioritas menggunakan kerangka pemberantasan yang meluas (wide sweeping framework) sebagaimana yang diformulasikan oleh The Commitee of Sponsoring Organization of the Treadway Comission (COSO) yang selama ini dipakai sebagai kerangka acuan atau guidance untuk menilai pengendalian. SOX sekarang mulai diterapkan di Amerika, Eropa dan Asia.

Tata kelola perusahaan dapat dijelaskan dengan teori keagenan yaitu bahwa adanya pemisahan antara kepemilikan (di pihak principal / investor) dan pengendali (di pihak agen atau manajer). Investor memiliki harapan bahwa manajer akan menghasilkan return dari uang yang diinvestasikan. Oleh karena itu kontrak yang baik antara investor dan manajer adalah kontrak yang mampu menjelaskan spesifikasi-spesifikasi apa sajakah yang harus dilakukan manajer dalam mengelola dana para investor, dan spesifikasi tentang pembagian return antara manajer dan investor.

Secara ideal manager dan investor menandatangani kontrak yang lengkap yang menspesifikasikan secara tepat apa saja yang akan dilakukan manajer disegala kemungkinan yang terjadi, dan bagaimana laba perusahaan akan dialokasikan. Namun sebagian besar faktor-faktor kontingensi sulit untuk diramal sebelumnya, sehingga sebagian kontrak yang lengkap sulit untuk diwujudkan. Dengan demikian investor diharuskan untuk memberikan hak pengendalian residual (residual control right) kepada manajer, yaitu hak untuk membuat keputusan dalam kondisi-kondisi tertentu yang sebelumnya terlihat dalam kontrak.

Hak pengendalian residual pada manajer mempunyai kemungkinan untuk diselewengkan dan akan menimbulkan masalah keagenan yaitu sulitnya investor mendapatkan keyakinan bahwa dana yang mereka tanamkan tidak dikelola dengan semestinya oleh manajer. Manajer memiliki hak untuk mengelola perusahaan dan dengan demikian memiliki hak diskresioner untuk mengelola dana investor. Bentuk ekspropriasi yang mungkin dilakukan manajer diantaranya penggelapan dana investor, menjual produk ke perusahaan yang dimiliki manejer dengan harga yang lebih murah dibanding nilai pasar, hingga menjual asset perusahaan lainnya ke perusahaan yang dimiliki manajer. Bahkan yang paling parah adalah manajer yang mempertahankan jabatan/ posisi pekerjaannya meskipun mereka sudah tidak berkompeten dalam menjalankan usahanya.

Teori keagenan di dasarkan pada 3 asumsi yaitu asumsi sifat manusia, asumsi keorganisasian, dan asumsi informasi. Asumsi sifat manusia menekankan bahwa manusia mempunyai sifat mementingkan diri sendiri, mempunyai keterbatasan rasional dan tidak menyukai resiko. Asumsi keorganisasian menekankan adanya konflik antar organisasi, efisiensi sebagai criteria efektifitas dan adanya asimetri informasi antara principal dan agen. Asumsi informasi menekankan bahwa informasi sebagai barang komoditi yang dapat diperjual belikan.

Corporate governance diharapkan bisa berfungsi sebagai alat untuk memberikan keyakinan kepada para investor bahwa mereka akan menerima return atas dana yang diinvestasikan, dan yakin bahwa manajer tidak akan menggelapkan atau tidak menginvestasikan dana ke proyek-proyek yang tidak menguntungkan dan berkaitan dengan bagaimana investor mengontrol para manajer.

Corporate governance meliputi serangkaian hubungan antara manajemen perusahaan, dewan direksinya (dewan direksi dan dewan komisaris), para pemegang saham dan stakeholders lainnya (OECD 1999). Corporate governance juga merupakan suatu yang memfasilitasi penentuan sasaran-sasaran dari suatu perusahaan, dan sebagai sarana pencapaian sasaran dan sarana menentukan teknik monitoring kinerja. Corporate governance harus memberikan insentif yang tepat bagi dewan direksi dan manajemen dalam rangka mencapai sasaran, harus dapat memfasilitasi monitoring yang efektif dan mendorong penggunaan sumber daya yang efektif.

Teknologi informasi dirasakan berperan peran penting dalam meningkatkan keunggulan bersaing di era ekonomi ketiga. Teknologi informasi terbukti telah menciptakan “value” bagi perusahaan. Perusahaan semakin tergantung terhadap teknologi informasi agar tetap dapat bersaing. Dengan semakin meningkatnya penggunaan teknologi informasi dalam bisnis, tata kelola teknologi informasi (IT governance ) menjadi konsep yang penting dibicarakan. Mengingat pengeluaran investasi di bidang TI yang cukup besar (mencapai 50% dari total asset). Para manager dan direktur semakin diminta pertanggung jawabannya atas pengelolaan dana yang diinvestasikan dalam teknologi informasi.

IT Governance adalah bagian terkait dengan corporate governance. Beberapa hal / pertanyaan mendasar jika dibandingkan dengan corporate governance adalah: IT Governance berkaitan dengan bagaimana top manajemen memperoleh keyakinan bahwa Manager Sistem Informasi (Chief Information Officer) dan organisasi TI dapat memberikan return berupa “value” bagi perusahaan. Bagaimana meyakinkan top manajemen bahwa CIO dan organisasi TI tidak menggelapkan dana yang diinvestasikan, atau tidak menginvestasikan pada proyek yang salah, serta bagaimana top manajemen dapat mengontrol CIO dan organisasi TI.

Hal apa sajakah yang menjadi area fokus pengelolaan IT governance?, Menurut Information Technology Governance Institute ( ITGI), terdapat 5 area yang penting diperhatikan yaitu: Keselarasan strategi business dan strategi TI, IT value delivery, manajemen resiko, pengukuran kinerja dan manajemen sumber daya TI. Setiap area ini mempunyai standar pengaturan yang diuraikan dalam panduan COBIT (Control Objectives for Information Technology).

Bagaimana membuat tata kelola teknologi informasi (IT governance) berjalan merupakan tanggung jawab para manager dan direksi. Alasan yang paling penting adalah meningkatnya belanja TI, kaburnya batas bisnis dan teknologi informasi sendiri. Sehingga untuk membicarakan IT governance benar-benar harus melibatkan para manager dan direksi. Namun untuk kesuksesan penerapan perlu perhatian pada aspek struktur pembuatan keputusan yang tepat, prioritas projek yang jelas dan komitmen kerja yang kerja.

Bagaimana IT governance bekerja dalam lingkup Sarban-Oxley saat ini menjadi issue yang ramai dibicarakan. Pada dasarnya bagaimanakah mekasnisme berjalannya IT governance tersebut? Menurut Stevan De Haes dan Van Grembergen dalam tulisannya di Information System Control Journal Volume I 2004; penerapan IT governance memerlukan kombinasi Struktur, Proses dan Mekanisme Relasi untuk keduanya.

Struktur dalam hal ini diartikan hal-hal mendasar harus dibangun agar IT Governance dapat berjalan. Struktur mencakup; Struktur organisasi TI, pembagian peran dan tanggung jawab dalam struktur dan, CIO on board, IT Steering commitee, IT strategy commitee. Struktur organisasi TI mencakup bagaimana fungsi TI diorganisir, dan dimana otoritas pembuatan keputusan ditempatkan dalam organisasi tersebut. Pembagian peran dan tanggung jawab mengharuskan definisi peran dan tanggung jawab yang jelas dan tidak ambigu untuk board dan eksekutif manajemen, serta sistem pelaporan kinerja bisnis dan kepatuhan (complience). Board dan eksekutif manajemen perlu mempunyai pengetahuan tentang bisnis, teknik manajemen dan potensi resiko dan benefit terkait dengan bisnisnya. Board dan manajemen menjalankan tugas pengaturan melalui IT strategic commitee dan memastikan bahwa TI merupakan agenda regular dalam kegiatan mereka. Steering commitee mempunyai tanggung jawab spesifik untuk mengawasi proyek TI, mengelola priotas TI, biaya TI dan pembagian sumber daya.

Yang dimaksud dengan Proses dalam hal ini adalah pekerjaan-pekerjaan yang dilakukan dalam rangka menerapkan IT governance mencakup:

1) Strategic Information System Planning; Perencanaan strategi TI penting sekali ditetapkan diawal, harus diartikulasikan dengan pertimbangan faktor internal dan ekternal yang harus benar-benar sesuai dengan strategi bisnis perusahaan.

2)Adanya policy dan procedure yang merupakan panduan dan arahan manajemen dalam mengembangkan dan menerapkan pengendalian atas sistem informasi dan sumber daya terkait.

3)Information Economics; Adanya proses penilaian tingkat pengembalian investasi TI, dengan metode ROI dan scoring terhadap intangible benefit (value) yang dapat diciptakan, sehingga membantu dalam pemilihan proyek.

4). IT Balance Score Card; Menerapkan metode penghitungan kinerja TI dari 4 perspektif yaitu : perspektif keuangan, kepuasan pelanggan, proses internal dan kemampuan inovasi (learning process).Hasil pengukuran kinerja akan memberikan petunjuk apakah TI yang diterapkan masih sejalan dengan strategi bisnis.

5) Service Level Agreement; Perlu adanya kontrak yang memastikan level service yang berhak diterima user atau level yang harus dicapai oleh service provider, sehingga terciptanya indikator kualitas service yang saling dimengerti oleh kedua pihak.

6) COBIT and ITIL; untuk mengukur seberapa patuh perusahaan menerapkan aspek-aspek pengendalian disetiap aktivitas TI digunakan standar Control Objective for Information and Related Technology framework (COBIT-Isaca) dan perusahaan dapat menggunakan IT Information Library (ITIL-ITGI) sebagai tambahan. Standar ini berisi panduan pengendalian tingkat tinggi terhadap 34 aktivitas TI yang dikelompokan dalam 4 domain yaitu; Perencanaan dan Organisasi, Pembelian dan Implementasi, Penyerahan dan Dukungan serta Monitoring dan Evaluasi.

7) IT Allignment/Governance Maturity model; Harus ada proses untuk menentukan tingkat kematangan pengelolaan TI yang diterapkan perusahaan. Ukuran kematangan biasanya dibandingkan dengan best practise praktek TI. Ada beberapa tingkatan kematangan dalam pengelolaan, mulai dari yang terendah yaitu Level 0 (Nonexistence), level 1 (Initial/Adhoc), level 2( Repeatable), but intuittif, level 3 (Defines process), level 4 (Managed and measureable) dan level 5 (Optimed).

Setelah ada dua hal diatas Struktur dan Proses, ternyata hal yang ketiga mekanisme relasi disadari merupakan hal yang sangat berperan dalam penerapan IT governance. Karena struktur dan proses yang baik tidak akan berjalan jika bisnis dan TI tidak dimengerti satu sama lainnya. Untuk mencapai IT governance yang efektif diperlukan komunikasi dua arah, partisipasi yang baik dan hubungan kolaborasi antara orang-orang bisnis dan orang-orang TI. Sangat krusial sekali untuk memfasilitasi sharing, knowleage management, continous education dan cross training.

Entry Filed under: Corporate Governance, IT Governance. .

22 Comments Add your own

  • 1. fitri  |  Agustus 3, 2007 at 11:57 am

    ok

  • 2. andrid  |  Agustus 6, 2007 at 5:20 pm

    bu, ilmu2 tersebut di atas bisa saya dapatkan pdf-nya gak ?
    atau dimana saya bisa mendalaminya ?

    terima kasih

  • 3. Idrianita  |  Agustus 6, 2007 at 8:16 pm

    Andrid,
    Artikel tentang itu banyak sekali. Buka saja http://www.isaca.org, ketik key word yang dicari….pada search…. umumnya akan keluar tulisan tentang apa saja yang pernah muncul di IS control jurnal, atau media lain terbitan ITGI dsb. Tentunya yang berbahasa Inggris. Yang berbahasa Indonesia memang masih langka.
    Salam

  • 4. stephanie  |  September 7, 2007 at 11:53 pm

    Bu, saya mau tanya…
    apa beda CEO, CIO sama CFO..
    kalau CFO khan mengenai financial/ keuangan…
    tapi saya masi belum jelas dengan perbedaan tugas antara CEO dan CIO…

    terima kasih bu sebelumnya..

  • 5. Idrianita  |  September 10, 2007 at 12:29 am

    Stephanie,
    CEO, atau Chief Executive Officer adalah penanggung jawab tertinggi dalam manajemen keseluruhan suatu perusahaan. CIO adalah Chief Information Officer adalah jabatan tertinggi untuk manajemen TI. CIO merupakan jabatan strategis yang biasanya dipegang oleh manajer senior. CIO biasanya bertanggung jawab kepada CEO.
    CIO ada pada perusahaan dengan TI yang sangat signifikan. Mungkin tidak semua perusahaan ada jabatan ini. Diperusahaan tertentu kadang CIO bertanggung jawab pada COO (Chief Operational Officer).

  • 6. toto sugianto  |  Oktober 11, 2007 at 2:16 am

    Mau tanya nih bu..
    1. Menurut ibu, konsep pengendalian intern seperti apa yang lebih cocok untuk diterapkan diindonesia antara sekian banyak konsep seperti COSO, COBIT, ITIL, ISO/IEC TR 13335, dsb?
    2. Bagian-bagian apa saja dari konsep-konsep tersebut yang relevan dengan kondisi di Indonesia?
    3. Dapatkah sebuah institusi menggabungkan beberapa konsep tersebut dalam organisasinya?
    Terima kasih atas tanggapan ibu..

  • 7. idrianita  |  Oktober 25, 2007 at 3:13 am

    Mas Toto,
    Ada banyak standar yang digunakan dalam rangka menata kegiatan-kegiatan yang ada di perusahaan. Standar mana yang perlu diterapkan sebenarnya kita tidak perlu lihat apakah perusahaan tersebut ada di Indonesia atau di wilayah negara mana. Karena pada beberapa standar yang ada sudah dikembangkan dan diterima secara global bahkan jika diterjemahkan di negara setempat tidak terlalu berubah secara prinsip, hanya diadaptasikan dalam pelaksanaan karena penyesuaian kultur saja.

    Jika organisasi akan menggunakan standar, tentunya disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan organisasi tersebut. Misalnya COSO sangat umum diterapkan karena sangat fleksibel. Namun jika pemakaian ada penggunaan IT maka Cobit juga dipakai. Kalau penggunaan IT sangat kritis perlu standar lain yang lebih detil dalam manajemen krgiatan IT tersebut.

    COSO merupakan integrated framework with control untuk peningkatan peningkatan kualitas pelaporan keuangan, dan pengendalian internal yang efektif. Dapat dikatakan merupakan international Generalized Internal Control Model yang paling banyak dikenal walaupun sebenarnya ada model lain misalnya United Kingdom’s Cadbury Comission (Cadbury) Lahirnya COSO dari perkumpulan berbagai jenis profesi di dunia seperti AAA, AICPA, IIA, IMA dan FEI.

    COBIT® (Control Objectives for Information and related Technology) disusun oleh Information Systems Audit and Control Foundation (ISACF®) pada tahun 1996, merupakan standar yang dinilai paling lengkap dan menyeluruh sebagai framework tata kelola TI. Tiap negara punya chapter yang mengelola profesi tersebut. Di Indonesia pun ada. Jadi audit TI di Indonesia tetap mengacu pada Cobit. Target pengguna COBIT adalah organisasi/perusahaan dari berbagai latar belakang dan para profesional external assurance. Penerapan Cobit mencakup iperusahan kategori Small and Medium sampai perusahaan besar. Secara manajerial target pengguna COBIT adalah manajer, pengguna dan profesional TI serta pengawas/pengendali profesional.
    Cobit sesuai dengan COSO. Cakupan CObit sangat menyeluruh boleh dikatakan high level.

    Untuk standar yang lebih detil dibidang TI dikenal seperti,
    ISO17799 (code of profesional ethic for implementing security), ITIL (untuk service manajemen, PMBOK (untuk project manajemen), TickIT (untuk security) dan banyak lagi yang lain.

    Sekarang perusahaan mau pilih yang mana?
    Boleh dibilang ada 3 lapisan governance (tatakelola) perusahaan. 1. Corporate Governane (Mau tak mau standar COSO, atau Cadbury boleh dipakai. 2. IT Governance, jika ada penggunaan TI tambahkan penerapan Cobit 3. IT Management: Jika unsur TI sangat kritis dan berperan sangat strategis bagi perusahaan, relevan penerapan standar selain COSO dan Cobit tadi, disesuaikan dengan keperluan.

    Semoga membantu

  • 8. chyntia  |  November 5, 2007 at 9:50 am

    ass..
    bu, saya chyntia..
    mau tanya mengenai bsc and IT. Bu, klo meneliti penerapan bsc dalam perusahaan IT, bagian apa yang harus diteliti? Apakah SDM nya diukur dengan bsc atau apa? saya sedang membuat skripsi mengenai bsc dan IT, lalu penelitian pada perush ISP, tp saya melalui SPM (sistem pengendalian manajemen), tnyt cakupan dalam manajemen IT pun luas sekali ya bu..
    ynag lebih spesifik itu gimana bu? trimakasih sebelumnya..
    jika tidak keberatan tolong balas melalui email bu..
    poetri.jingga@yahoo.com

    wass…

  • 9. idrianita  |  November 15, 2007 at 3:08 pm

    Cyntya, ok japri aja ya.

  • 10. kristy  |  November 18, 2007 at 3:48 pm

    bu, yang ditanyan mbak cyntya di atas. bisa tolong ibu jelaskan lagi ga? saya juga punya pertanyaan yang sama tentang analisa BSC dalam perusahaan IT. apanya si yang harus di analisa?
    makasih banyak.

  • 11. Idrianita Anis  |  November 20, 2007 at 10:31 am

    Cyntia dan Kristy,
    Teori Balance Score Card di perkenalkan oleh Kaplan dan Norton pada awal tahun 1992. Pada sadarnya ini digunakan untuk penilaian kinerja bagi manajemen. Pada dasarnya kerangka BSC digunakan untuk memperjelas visi dan strategy perusahaan dan menterjemahkannya kedalam business plan dan resources alocation proces, menyelaraskan objective ke individual level, dan membuat suatu sistem pengukuran kinerja serta feedback.
    Traditional BSC akhirnya juga diturunkan ke IT BSC sehingga jika disetarakan aspek cara pandang (perspektif) Tradidional BSC ke IT BSC menjadi sebagai berikut.

    Tradisional BSC IT BSC
    Financial……………. —-> Corporate Contribution
    Customer…………… —–> Customer (User) Orientation
    Internal Proses………….——> Operational Excellence
    Learning & Growth…….——> Future Orientation

    Apa yang perlu diperhatikan dari setiap perspektif?
    1. Faktor-faktor yang menentukan setiap perspektif.
    2. tentukan Key Performance Indicatornya (KPI)
    3.Tentukan Benchmark untuk setiap KPI sehingga dapat diberikan penilaian tentang pencapaian faktor tersebut.

    Contoh salah satu faktor pada masing2 perspektif.
    1. Corporate contribution:
    Faktor: Managemen IT Investment
    KPI :Actual VS Budgeted expenses atau
    Cost Recovery Vs Expenses
    Benchmark: Expenditure relative to “selected ” competitor.
    Faktor lain: Strategyc contribution, Business value of IT project, Synergy achievement dll

    2. Customer Orientation
    Faktor: Customer Satisfation
    KPI: Score of Annual Survey
    Faktor: Service Level Agreement
    KPI: Rata-rata aplikasi (%) dan aplication services yang memenuhi level target availability dan performance.
    Benchmark: Past permance.
    Faktor lain: Aplication development performance, IT/Business parnership. Cari KPI dan bencmarknya.

    3. Operasional Excellence
    Faktor: Process Excellence, Securitu and Safety dll
    KPI: Proses Maturity rating, proses performance
    Bencmark: ITIL
    faktor lain misalnya: Responsiveness, Backlog Management and Aging, Internal Cost of Quality measure. KPI Dan bencmark?

    4. Future Orientation
    Faktor: ervice Capability Improvement
    KPI:Delivery of Internal Project to plan: Internal proces improvement, technology renewal, and profesional development.
    Bencmark: Market Comparison.
    Faktor-faktor lain misalnya Staff Manajemen Efektifness, Emerging Technology Research, Knowleage Management (Coba cari KPI dan bencmarknya sendiri)

  • 12. Suri  |  Maret 10, 2008 at 1:56 pm

    Selamat siang bu, saya mau tanya, apa saja yang mempengaruhi biaya agensi (cost Agency), siapa yang mengemukakan teori keagenan, apakah struktur kepemilikan dan jumlah direksi berpengaruh terhadap agensy cost? dan kalau boleh tahu ya bu dibuku apa saja yang ada memaparkan dengan jelas tentang teori keagenan. Saya sangat senang seandainya ibu berkenan mau menjelaskannya dan langsung mengirim ke email saya.

  • 13. idrianita  |  Maret 12, 2008 at 7:42 pm

    Suri,

    Agency Theory muncul pertama kali tahun 1929 saat terjadi wallstreet crash, ada dua pakar yang melatar belakangi lahirnya GCG yaitu Augustus Berle dan Gardiner C.Means dalam bukunya “The Modern Corporation and Private Property” (1932) setelah 50 tahun kemudian banyak diulas dalam jurnal oleh Eugene Fama dan Michael Jense dalam tulisan ” The Separation of Ownership and Control” (Journal of Law and Economics). Kompetensi dan pengalaman manajemen yang ditunjuk, serta struktur kepemilikan termasuk yang menentukan agency cost. Principal agency teori banyak terdapat umumnya dalam jurnal penelitian. boleh juga coba cari jurnal di http://www.ssrn.com

  • 14. levani  |  April 12, 2008 at 10:36 pm

    bu, saya mau bertanya, bagaimana hubungan COSO dengan COBIT? apa yang menjadi “benang merah” diantara kedua standar tersebut?
    mohon penjelasan dari ibu, sebelumnya saya ucapkan banyak terima kasih.

  • 15. levani  |  April 12, 2008 at 10:42 pm

    maaf bu, 1 lagi pertanyaan.

    apakah cobit dan coso itu dapat di-integrasi-kan?
    jika iya, bagaimana contoh penerapannya?

    terima kasih atas tanggapannya.

  • 16. idrianita  |  April 18, 2008 at 8:28 pm

    Levani,

    baca comment no 7 deh, cobit dikembangkan juga berbasis coso.

  • 17. Sugeng  |  Juni 14, 2008 at 10:56 am

    bu saya mau minta tolong nih, mau minta saran tentang topik skripsi yang berkaitan dengan COBIT ..
    saya ada rencana mengaitkan komponen dalam COBIT.. ada saran ga yang kira2 mudah untuk cari bahannya ..
    cthnya : temen saya ambil hubungan antara DS 5 dan DS 11..
    makasih banget buat sarannya ..

  • 18. intan megafany  |  Oktober 20, 2008 at 9:30 pm

    dalam artikel ibu, disitu disinggung mengenai sarbanes oxley act.. saya ingin bertanya mengenai hubungan sarbanes oxley act dengan perwujudan GCG di perusahaan. apakah ke dua hal tersebut menurut ibu memiliki hubungan yang signifikan? mohon jawabannya bisa di email ke hooseki_kirei@yahoo.com… saya sangat membutuhkan referensi untuk pengajuan skripsi saya. terimakasih.

  • 19. Nadia Octriabigail  |  Oktober 22, 2008 at 8:27 am

    Bu,saya mau tanya.apa keterkaitan antara informasi teknologi aktivitas control&kerangka kerja COSO.terima kasih.tolong cepat dijawab karena mendesak untuk tugas.

  • 20. arqam.h  |  November 22, 2008 at 3:03 pm

    ass ibu..
    maaf ibu saya mo nanya,boleh ga klo it governance punya ibu saya buat skripsi???
    klo boleh,data2 diatas nyarinya diman ya ibu???
    terima kasih sebelumnya

  • 21. ICha  |  Desember 17, 2008 at 9:17 am

    Bu mohon bantuannnya, saya disuruh untuk meneliti mengenai keterkaitan antara IT Governance dengan Besarnya Dana CSR untuk skripsi….mohon bantuannya terutama mengenai penerapan IT Governance dalam Industri Telekomunikasi…terimakasih Bu…

  • 22. amanda  |  Agustus 5, 2009 at 11:44 pm

    ass bu…
    sy mo tanya ttg COBIT…
    Apa yg dijadikan standar pengukuran COBIT pada proses monitoring IT Performance (ME 1)..adakah standar bakunya dlm cobit itu sendiri bu??
    makasih ibu sbelumnya…mohon dblss..

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Subscribe to the comments via RSS Feed


Idrianita Anis



idrianita.jpg

Seorang dosen di Jurusan Akuntansi Fak. Ekonomi Universitas Trisakti, ibu dari dari dua anak, isteri dari seorang suami (klik di sini).

Idrianita is a member of :


Tulisan Saya Terbaru

Komentar Pengunjung

dhiaz di Weekend di Parai Beach Re…
sri sulandari di Buku Tamu
oki di Buku Tamu
temmy di Weekend di Parai Beach Re…
Indoproperty bsd di Bagaimana Pola Investasi …
mut di Audit Keuangan dalam Lingkup S…
Metha di Audit Sistem / Teknologi …
fitri afriani di Weekend di Parai Beach Re…
selvy di Workshop Analisis Laporan Keua…
Priscilia di Balanced Scorecard

Sering Dibaca Orang

Arsip

a

Halaman Blog

Blog Lain

Bloggers

Blogroll

Kuliah

Sejak 27 Apr 07

Khusus Admin

 

April 2007
S S R K J S M
    Mei »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30